Minggu, 23 November 2014

Manusia dan Penderitaan : Penderitaan

Penderitaan

 Sebuah irisan  yang tergores pisau
Pisau yang tak terlihat
Bekas irisan yang tak tampak
Sebuah luka tanpa bekas di diri

Pedang bukanlah pedang
Cambuk bukanlah cambuk
Memberikan luka besar di dalam jiwa
Luka yang tak akan bisa di obati
Sebuah luka yang abadi

Menangisku tanpa air mata
Berteriak tanpa suara
Bergejolak di jiwa bagai angin badai

Pedang tanpa wujud inipun terus menusuk
Cambuk pun terus menggores luka
Tetesan darah tak henti mengalir
Menghadapi dunia ini

Aku dan Kehidupanku.


 |Abdul Muhamad Endri | 1id10 | 30414037 |

Manusia dan Keindahan

A. KEINDAHAN

Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Dalam bahasa Latin, keindahan diterjemahkan dari kata “bellum” Akar katanya adalah “benum” yang berarti kebaikan.
Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tank yang selalu bertambah. Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan

A.1 APAKAH KEINDAHAN ITU ?

Keindahan adalah susunan kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang paling disebut adalah kesatuan (unity) keselarasan (harmony) kesetangkupan (symmetry) keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast).

Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Keindahan dalam arti luas, menurut Aristoteles keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
2. Keindahan dalam arti estetik murni, yaitu pengalaman estetik seseorang dalam hubungan dengan segala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas, yaitu yang menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan yakni berupa keindahan bentuk dan warna

Ada 2 nilai yang penting dalam Keindahan :
1. Nilai ekstrinsik yakni nilai yang sifatnya sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal. Contohnya tarian yang disebut halus dan kasar.
2. Nilai intrinsik yakni sifat baik yang terkandung di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari sifat baik tersebut. Contohnya pesan yang akan disampaikan dalam suatu tarian.
Bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetis yang disebutnya ‘symmetria’ untuk keindahan berdasarkan penglihatan ( misalnya pada karya pahat dan arsitektur.) dan hamlonia untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik). Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi
  • keindahan alam
  • keindahan moral
  • keindahan seni
  • keindahan intelektual
Keindahan dalam arti estetis mumi menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya. Sedang keindahan dalam arti terbatas lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dicerapnya dengan penglihatan, yakni berupa keindahan dan bentuk dan warna. keindahan pada dasamya adalah sejumlah kwalita, pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.

A.2 Nilai Estetik      
   Dalam rangka terori umum tentang  “The Lianh Gie” menjelaskan bahwa pengertian yang dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estentik.
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu ha! lainnya (instrumental/contributory. value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu.. Sedangkan nilai instrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.  

A.3 Kontemplasi dan Ekstansi
             Kontemplasi adalah dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah. Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah. Apabila kedua dasar ini dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah. Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi itu merupakan faktor pendorong utuk merasakan, menikmati keindahan. Bagi scorang seniman selera seni lebih dominan dibandingkan dengan orang bukan seniman. Bagi orang bukan seniman mungkin faktor ekstansi lebih menonjol. Jadi, ia lebih suka menikmati karya seni daripada menciptakan karya seni. Dengan kata lain, ia hanya mampu menikmati keindahan tetapi. tidak mampu menciptakan keindahan.









A.4 Apa sebab manusia menciptakan keindahan?

     1.Tata nilai yang telah usang
Tata nilai yang terjelma dalam adat istiadat ada yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan, sehingga dirasakan sebagai hambatan yang merugikan dan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya kawin paksa.

     2.Kemerosotan Zaman
Keadaan yang merendahkan derajad dan nilai kcmanusiaan ditandai dengan kemerosotan moral. Kemerosotan moral dapat diketahui dari tingkah laku dan perbuatan manusia yang bejad terutama dari segi kebutuhan seksual.

      3.Penderitaan manusia
Banyak faktor yang membuat manusia itu menderita. Tetapi yang paling menentukan ialah faktor manusia itu sendiri. Manusialah yang membuat orang menderita sebagai akibat nafsu ingin berkuasa. serakah, tidak berhati-hati dan sebagainya.
Keadaan demikian ini tidak mempunyai daya tarik dan tidak menyenangkan, karena nilai kemanusiaan telah diabaikan, dan dikatakan tidak indah. Yang tidak indah itu harus dilenyapkan karena tidak bermanfaat bagi kemanusiaan.

       4.Keagungan Tuhan
Keagungan Tuhan dapat dibuktikan melalui keindahan alam dan keteraturan alam semesta serta kejadian-kejadian alam. Keindahan alam merupakan keindahan mutlak ciptaan Tuhan. Manusia hanya dapat meniru saja keindahan ciptaan Tuhan itu. Seindah-indah tinian terhadap ciptaan Tuhan, tidak akan menyamai keindahan ciptaan Tuhan itu sendiri.



B. RENUNGAN
          Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori. Teori-teori itu ialah : teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologi

B.1 Teori Pengungkapan
           Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and General Linguistic”.Seorang tokoh lainnya dari teori pengungkapan adalah Leo Tolstoi dia menegaskan bahwa kegiatan seni adalah memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, wama, suar dan bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata mernindahkan perasaan itu sehingga orang-orang mengalami perasaan yang sama.

B.2 Teori Metafisik
            Teori seni yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory).

B.3 Teori Psikologis
             Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasaikan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. 
               Menurut Schiller, asal mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main (play impulse) yang ada dalam diri seseorang. Sebuah teori lagi yang dapat dimasukkan dalam teori psikologis ialah teori penandaan (signification Theory) yang memandang seni sebagi suatu lambang atau tanda dari perasaan manusia

C. KESERASIAN
                               Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang. Keserasian identik dengan keindahan. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.Kualita yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity).
                               Filsuf Ingris Herbert Read merumuskan definisi, bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang terdapat di antara pencerapan-pencerapan inderawi kita (beauti is unity of formal relations among our sence-perception) 

C.1 Teori Obyektif dan Teori Subjektif
                      The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan, bahwa dalam mencipta seni ada dua teori yakni teori obyektif dan teori subyektif. Teori obyektif berpendapat, bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualita) yang memang telah melekat pada bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Teori subyektif, menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Adanya keindahan semata-mata tergantung pada pencerapan dari si pengamat itu. Yang tergolong teori subyektif ialah yang memandang keindahan dalam suatu hubungan di antara suatu benda dengan alam pikiran seseorang yang mengamatinya seperti misalnya yang berupa menyukai atau menikmati benda itu.

C.2 Teori Perimbangan
                       Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani Kuno dulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas, yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka. Keindahan dianggap sebagai kualita dari benda-benda yang disusun (yakni mempunyai bagian-bagian). Bangsa Yunani menemukan bahwa hubungan-hubungan matematik yang cermat sebagaimana terdapat dalam ilmu ukur dan berbagai pengukuran proporsi ternyata dapat diwujudkan dalam benda-benda bersusun yang indah.
                        Teori perimbangan berlaku dari abad ke-5 sebelum masehi sampai abad ke 17 masehi selama 22 abad. Teori tersebut runtuh karena desakan dari filsafat empirisme dan aliran-aliran termasuk dalam seni. Bagi mereka keindahan hanyalah kesan yang subyektif sifatnya.
Keindahan hanya ada pada pikiran orang yang menerangkannya dan setiap pikiran melihat suatu keindahan yang berbeda-benda. Para seniman romantik umumnya berpendapat bahwa keindahan sesungguhnya tercipta dan tidak adanya keteraturan, yakni tersusun dari daya hidup, penggambaran, pelimpahan dan pengungkapan perasaan. Karena itu tidak mungkin disusun teori umum tentang keindahan.


Sumber : http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ilmu_budaya_dasar/bab5-manusia_dan_keindahan.pdf
 








Selasa, 11 November 2014

Manusia dan Cinta Kasih : Kasih Sayang

PUISI

          KASIH SAYANG
 
        Sentuh halus dirimu
            Senyum indah  dirimu
        Menghubungkan kedamaian  bersama
            
            Tak dapat jauh
            Tak dapat terhindar
        
        Rembulan senja pemutus siang
            Terbit sinar penghantar hari
            Tak putus rasa ingin tahu
            Untuk terus bisa bersama
            
            Diriku
            Dirimu
            Dan kasih sayangku

Abdul Muhamad Endri





Jumat, 31 Oktober 2014

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam kesusastraan

A. PENDEKATAN KESUSASTRAAN

             Basic Humantities adalah nama awal dari Ilmu Budaya Dasar yang berasal dari bahasa inggris The Humanities yang mana istilah ini berasal dari bahasa latin, yaitu Humanus. Pada umumnya The Humanitites mencakup filsafat, teologi, seni dan cabang - cabangnya termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, dan sebagainya. Pada pokoknya semua mempelajari masalah manusia dan budaya.
            Seni merupakan memegang peranan penting dalam The Humanities hal ini disebabkan seni merupakan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, dan bukannya formulasi nilai-nilai kemanusiaan seperti yang terdapat dalam filsafat atau agama. Seni berbeda dengan cabang The Humanities yang lainnya, yang mana cabang yang lain menyampaikan nilai-nilai kemanusiaannya secara normatif. Seni merupakan ekspresi yang sifatnya tidak normatif sehingga lebih mudah berkomunikasi serta nilai-nilai yang disampaikannya lebih fleksibel, baik isinya maupun cara penyampaiannya.
           Tidak hanya seni, namun sastra pun memiliki peranan yang penting, karena sastra mempergunakan bahasa, dimana bahasa memiliki kemampuan untuk menampung hampir semua pernyataan kegiatan manusia. Dalam usaha untuk memahami diri sendiri dengan lahirnya filsafat, memahami alam semesta dengan lahirnya ilmu pengetahuan, dan mengatur hubungan antar sesamanya yang melahirkan ilmu-ilmu sosial, manusia menggunakan bahasa sebagai sarananya. Hal ini membuktikan bahwa manusia dan bahasa pada hakekatnya adalah satu. Hal ini pula yang mempermudah sastra dalam berkomunikasi.
             Sastra lebih mudah berkomunikasi karena pada hakekatnya pun sastra adalah penjabaran abstraksi berbeda dengan cabang seni lainnya yang bersifat abstraks. Sastra pun didukung oleh cerita, dengan cerita orang lebih mudah tertarik, dan dengan cerita orang lebih mudah untuk mengemukakan gagasan-gagasannya dalam bentuk yang tidak normatif
              Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi.

B. ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA

Istilah prosa banyak padanannya. Pada kesusastraan Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.
            Dalam kesusastraan Indonesia kita mengenal jenis prosa lama dan prosa baru.

   A. Prosa lama
     
  1. 1. Dongeng-dongeng
             Dongeng merupakan suatu kisah yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan makhluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi dari pemikiran seseorang yang kemudian diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
          
           2. Hikayat
              Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.
          
           3. Sejarah
               Sejarah merupakan salah satu hal yang saat ini berkaitan erat dengan kehidupan kita dan mengandung berbagai makna dan kontroversi.
       
           4. Epos
               Epos merupakan cerita kepahlawanan, syair panjang yg menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan.
       
           5. Cerita Pelipur Lara
             Cerita pelipur lara adalah sejenis sastra rakyat yang pada mulanya berbentuk sastra lisan.
 

           B. Prosa baru
       
           1. Cerita Pendek
               Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.
            
            2. Roman/Novel
                Novel secara garis besar adalah sebuah cerita yang menceritakan sebagian kecil kisah kisah hidup seseorang. Sedangkan roman, adalah sebuah cerita yang menceritakan tentang sebagian besar kisah hidup seseorang dan bentuk yang terbaik adalah yang menceritakan kisah hidup seseorang dari ia kecil sampai meninggal.
       
           3. Biografi
               Biografi adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain.
         
           4. Kisah
               Kisah adalah cerita tentang kejadian (riwayat) dalam kehidupan seseorang.
          
           5. Otobiografi
               Otobiografi merupakan riwayat hidup pribadi yang ditulis sendiri.

C. NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI

        Prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat suara. Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :

1. Prosa fiksi memberikan kesenengan

         Kesenangan yang dapat diterima saat membaca fiksi adalah ketika pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalami peristiwa itu sendiri, dan dapat mengembangkan daya imajinasinya pada suatu daerah yang belum pernah di kunjunginya, dan dapat mengenal tokoh-tokoh asing yang memiliki jalan hidup yang rumit hingga mencapai kesuksesan

2. Prosa fiksi memberikan Informasi
     
       Fiksi memberikan kita informasi yang tidak bisa di dapatkan di ensiklopedi. Informasi bisa berupa informasi masa kini, masa lalu, masa mendatang bahkan pada masa yang tidak akan pernah ada

3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural

         Prosa fiksi menstimulasi imajinasi, dan sarana bagi pemindahan yang tak henti hentinya dari warisan budaya bangsa. Banyak novel-novel yang mengembangkan harapan, impian, cita-cita serta aspirasi-aspirasi dari generasi terdahulu yang seharusnya dapat dihayati oleh generasi masa kini, yang dapat menciptakan jiwa heroik, patriotisme dan sebagainya tanpa perlu mendapatkan pengalaman fisik namun cukup dengan hasil-hasil sastra

4. Prosa fiksi memberikan keseimbangan wawasan

         Melalui prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan banyak sudut pandang pengalaman hidup. Prosa fiksi juga memiliki lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangkaian aksi reaksi yang berbeda pada kehidupan nyata itu sendiri. Hasil dari menerima pengalaman sastra, pembaca akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi kenyataan-kenyataan diluar dirinya yang mungkin akan sangat berbeda dengan kepribadiannya.
             Berkenaan dengan moral, karya sastra dapat dibagi dua ; karya sastra yang menyuarkan aspirasi di jamannya, dan karya sastra yang menyuarakan gejolak di jamannya.
               Karya sastra yang menyuarakan aspirasi jamannya mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang di kehendaki di jamannya. Karya sastra Indonesia di jaman Jepang yang di kelompokan dalam karya ini. Karya sastra yang menyuarakan gejolak jamannya biasanya tidak mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu, tetapi untuk merenung.

D. ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI

                  Pusisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam dan Tuhan melalui media bahasa yang artistic/esthetic, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya. Kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan:

1. Figuran bahasa seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dan sebagainya sehingga puisi menjadi lebih hidup, segar, menarik, dan memberikan kejelasan gambaran angan

2. Kata-kata yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir

3. Kata-kata yang berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau

4. Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi tertentu

5. Pengulangan, berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang di lukiskan, sehingga lebih menggugah hati


Puisi merupakan hasil penghayatan dan pengalaman penyair terhadap  kehidupan manusia, terhadap alam dan Tuhan yang di ekspresikannya melalui bahasa yang artistik.
Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan Ilmu Budaya Dasar adalah sebagai berikut :

1.Hubugan puisi dengan pengalaman hidup manusia
         Perekaman dan penyampaian pengalaman dalam sastra puisi disebut "pengalaman perwakilan". Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat memberikan para mahasiswa kesadaran  yang penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri dan tentang masyarakat. Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan kemampuan yang disebut "imaginative entry", yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya

2.Hubungan puisi dengan kesadaran individual
          Dengan membaca puisi mahasiswa di ajak untuk dapat menjenguk hati/pikiran manusia, baik  orang lain maupun diri sendiri, karena puisi sang penyair menunjukan kepada pembaca bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman setiap orang.

3.Hubungan puisi dengan kesadaran sosial
        Puisi pun memberikan pengetahuan manusia tentang manusia sebagai mahluk sosial, yang terlibat dalam isue dalam masalah sosial. Secara imaginatif pusisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang berupa:

          a. Penderitaan atas ketidak adilan
          b. Perjuangan untuk kekuasaan
          c. Konflik dengan sesamanya
          d. Pemberontakan terhadap hukum Tuhan

Puisi umumnya sarat akan nilai-nilai etika, estetika dan juga kemanusiaan.






DAFTAR PUSAKA :

  • http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ilmu_budaya_dasar/bab3-konsepsi_ilmu_budaya_dasar_dalam_kesustraan.pdf
  • http://indraspamungkas.wordpress.com/2012/07/04/konsepsi-ilmu-budaya-dasar-dalam-kesusastraan/
  • http://mahardikayf.wordpress.com/2013/03/19/ilmu-budaya-dasar-yang-dihubungkan-dengan-prosa-2/

Senin, 15 September 2014

Pengenalan





http://gunadarma.ac.id/

Blog ini di buat untuk kebutuhan akademis.
Saya : Abdul Muhamad Endri
Mahasiswa dari Universitas Gunadarma
Fakultas : Teknologi Industri
Jurusan : Teknik Industri
Kelas : 1ID10
NPM : 30414037
Kampus J1 Kalimalang.

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: youremail@gmail.com

Our Team Memebers